Foto Si Ganteng

Narendra Ganteng, pengen cubit pipinya......

Foto paling banyak di Like

ini Foto Paling banyak di Like di FB lhoooo.....

Foto Pengen jadi Profesor

Ini Foto Narendra di Senja hari, pakai kacamata Ayahnya...

Foto Mirip Diponegoro

Ini Foto Mirip Pangeran Diponegoro, katanya ......

Foto dari Yogyakarta

ini Foto di ambil pas mantenannya dr. Yox di yogyakarta...

Tampilkan postingan dengan label Baiti Jannati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Baiti Jannati. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juli 2015

Lebih Dulu Mana, Puasa Syawal ataukah Puasa Qodho Ramadhan ?


Sahabat, kali ini saya akan berbagi ilmu dari Blog Islam Pos tentang mana lebih dahulu mengqodho puasa ramadhan atau langsung mengerjakan puasa syawal selepas puasa Ramadhan?
mari kita simak....
PARA ulama’ berselisih pendapat dalam masalah, apakah boleh mendahulukan puasa sunnah (termasuk puasa enam hari di bulan Syawal) sebelum melakukan puasa qadha Ramadhan.
Imam Abu Hanifah, Imam Asy-Syafi’i dan Imam Ahmad, berpendapat bolehnya melakukan itu. Mereka mengqiyaskannya (menganalogikannya -red. vbaitullah) dengan shalat tathawwu’ (sunnah) sebelum pelaksanaan shalat fardhu.
Adapun pendapat yang masyhur dalam madzhab Imam Ahmad, diharamkannya mengerjakan puasa sunnah dan tidak sah, selama masih mempunyai tanggungan puasa wajib.
Syaikh Bin Baz menetapkan, berdasarkan aturan syari’at (masyru’) mendahulukan puasa qadha’ Ramadhan terlebih dahulu, ketimbang puasa enam hari dan puasa sunnah lainnya. Hal ini merujuk (kepada) sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian diiringi dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, maka ia seperti puasa satu tahun.
Barangsiapa mengutamakan puasa enam hari daripada berpuasa qadha, berarti belum mengiringkannya dengan puasa Ramadhan. Ia hanya mengiringkannya dengan sebagian puasa di bulan Ramadhan. Mengqadha puasa hukumnya wajib, sedangkan puasa enam hari hukumnya sunat. Perkara yang wajib lebih utama untuk diperhatikan terlebih dahulu.
10 Pendapat ini pun beliau tegaskan, saat ada seorang wanita yang mengalami nifas pada bulan Ramadhan dan mempunyai tekad yang kuat untuk berpuasa pada bulan Syawal. Beliau tetap berpendapat, menurut aturan syari’at, hendaknya Anda memulai dengan puasa qadha terlebih dahulu. Sebab, dalam hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan puasa enam hari (Syawal) usai melakukan puasa Ramadhan. Jadi perkara wajib lebih diutamakan dari perkara sunnah.
Sementara itu Abu Malik, penulis kitab Shahih Fiqhis Sunnah berpendapat, masih memungkinkan bolehnya melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal, meskipun masih memiliki tanggungan puasa Ramadhan. Dasar argumentasi yang digunakan yaitu kandungan hadits Tsauban di atas yang bersifat mutlak. [kemensos]


catatan saya, menurut saya lebih baik mengerjakan puasa syawal dahulu, karena momen syawal hanya 1 kali setahun sedangkan mengqhodo puasa bisa di 11 bulan yang lainnya.
kata Narendra " lebih bagus yg wajib dulu, soale tar klo keburu Mati gimana...?? heheheee...
Saya kembalikan ke Sahabat, laahhhh....
wallohu A'lam bissawab...

Kamis, 11 Juni 2015

Belajar dari Lukman Hakim

Belajar Cara Mendidik Anak dari Sosok Lukman Al-Hakim

Belajar Cara Mendidik Anak dari Sosok Lukman Al-Hakim

disadur dari media.shafira.com
        Teman2n pasti tahu kan siapa itu Lukman Hakim, sosok Ayah yg Bijaksanan dan teristimewa dikisahkan dalam Al-Qur'an.

Lukman Al-hakim adalah satu-satunya manusia yang bukan nabi, bukan pula Rasul, namun kisah hidupnya diabadikan dalam Al-quran karena penuh hikmah.
Allah menjadikan Luqman Al-Hakim sebagai sosok orang tua panutan dan mencantumkan kisahnya dalam Al-Qur’an. bahkan Allah mengabadikan namanya menjadi sebuah nama surat dalam Al-Qur’an yaitu surat Luqman (surat ke 31).

Dan diantara kisah-kisah tentang Luqman Al-Hakim, secara khusus Allah mencantumkan nasehat Luqman kepada anaknya , yaitu :
  1. Nasihat Pertama yang Luqman berikan kepada anaknya adalah tentang tauhid. yaitu mengesakan Allah dengan ibadah dan cinta, bahwa hanya Allah satu-satunya yang berhak diibadahi dan satu-satunya yang dicintai, sedangkan cinta kepada yang lainnya hanyalah praktek dari perintah Allah untuk mencintai yang lainnya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.
  2. Nasihat kedua Berbuat baiklah kepada kedua orang tua
  3. Nasihat ketiga, Luqman membekali anaknya dengan didikan iman dan adab. Pada ayat 16 dan 17, Luqman menasehati anaknya tentang bagaimana ketika hendak melakukan sebuah perbuatan haruslah ingat bahwa setiap perbuatan baik atau buruk pasti akan dibalas oleh Allah. Kemudian Luqman memerintahkan anaknya untuk beribadah dalam bentuksholat, memerintahkan yang baik dan melarang yang buruk, dan sabar atas apa-apa yang menimpa. Inilah pendidikan iman yang Luqman tanamkan kepada anaknya.
  4. Dan Nasihat ke empat di ayat 18-19, Luqman menasehati anaknya agar tidak sombong yaitu dengan merendahkan atau menganggap remeh orang lain, dan mengajarinya bagaimana cara berjalan yang baik dan bertutur kata yang santun. Ini adalah pendidikan adab yang Luqman ajarkan kepada anaknya.
Sudahkah kita membekali anak-anak kita sebagaimana yang Luqman bekalkan kepada anaknya? apakah kita lebih takut jika anak kita nantinya tidak bisa makan dari pada takut jika anak kita akan mensekutukan Allah? dan sudahkah kita tanamkan pada diri anak-anak kita untuk selalu bersikap baik dan santun kepada siapa saja?
Baik buruknya mereka adalah hasil bagaimana cara kita mendidik dan mengarahkan mereka, bukan hasil dari sekolah atauyangLainnya. karena mereka adalah tanggung jawab kita sebagai orang tua.
Mari belajar dari sosok Lukman Al-Hakim, Belajar menjadi sosok orang tua bijak yang penuh hikmah.
Sumber: http://media.shafira.com
Jangan lupa Komentarnya, Teman.....
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com