Foto Si Ganteng

Narendra Ganteng, pengen cubit pipinya......

Foto paling banyak di Like

ini Foto Paling banyak di Like di FB lhoooo.....

Foto Pengen jadi Profesor

Ini Foto Narendra di Senja hari, pakai kacamata Ayahnya...

Foto Mirip Diponegoro

Ini Foto Mirip Pangeran Diponegoro, katanya ......

Foto dari Yogyakarta

ini Foto di ambil pas mantenannya dr. Yox di yogyakarta...

Tampilkan postingan dengan label Seputar Farmasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar Farmasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Juni 2015

Jangan Buang Obat Sembarangan


https://scontent-sin1-1.xx.fbcdn.net/hphotos-xpa1/v/t1.0-9/s720x720/11168019_362195440656891_8570761099335213248_n.jpg?oh=6f06ac3d3ff9e398391d87e0123431e8&oe=56345146
Malam ini, saya akan membagi ilmu swamedika dari https://www.facebook.com/swamedikasi , mari kita simak bersama-sama.

Umumnya di setiap rumah pasti memiliki dan menyimpan obat-obatan, baik yang sedang dikonsumsi atau yang disimpan sebagai stok . Namun adakalanya obat yang kita miliki tersimpan cukup lama di kotak obat. Untuk itulah kita juga harus memeriksa kondisi obat-obatan yang disimpan, dan membuang obat yang sudah kadaluwarsa, atau sudah tidak layak pakai, atau yang sudah tidak terpakai lagi.

Banyak dijumpai masyarakat membuang obat dengan cara langsung memasukkannya ke dalam tempat sampah. Bahkan dengan kondisi kemasan obat yang utuh dan masih sangat rapi.
Apakah membuang obat dengan cara ini adalah benar? Bagaimanakah cara membuang obat dengan benar?

Berikut adalah tips cara membuang obat yang benar :

Hilangkan semua informasi yang ada pada obat yang akan dibuang dan keluarkan obat dari bungkusnya. Hal ini berfungsi untuk melindungi identitas dan privasi mengenai keadaan kesehatan kita. Selain itu, juga berguna untuk menghindari obat dijual kembali oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab setelah obat dikumpulkan oleh pemulung.

Obat dalam bentuk tablet atau kapsul:
• obat dikeluarkan terlebih dahulu dari kemasannya;
• campurkan obat dengan bahan yang cenderung tidak akan dikonsumsi seperti pasir atau tanah;
• taruh dalam plastik tertutup. Ini dimaksudkan agar obat tidak akan dikonsumsi lagi meskipun mungkin ditemukan orang lain atau pemulung. Obat kemudian dapat dibuang di tempat sampah.

Obat dalam bentuk cair, misalnya sirup:
• biarkan obat tetap dalam kemasannya, ini untuk memudahkan mengidentifikasi kandungannya jika secara sengaja terminum;
• Campurkan sisa obat dengan bahan lain yang cenderung tidak akan dikonsumsi seperti pasir dan tanah;
• tutup kembali kemasan
• taruh dalam kantong plastik gelap agar tidak terlihat sebagai obat, dan buang di tempat sampah dengan menempatkannya pada bagian yang agak dalam agar tidak mudah ditemukan.

Kamis, 11 Juni 2015

Bagaimana cara menggunakan obat di bulan Ramadhan?

Bagaimana cara menggunakan obat di bulan Ramadhan?

Halo...teman2..
ini ada artikel Copas dari Prof. Zullies Ikawati, Klik di Sini

minum obatBulan Ramadhan telah datang lagi. Umat Islam menyambut dengan suka cita akan hadirnya bulan suci karena teringat janji pahala berlipat ganda dari Allah SWT,  bagi yang ikhlas dan bersungguh-sungguh menjalani ibadahnya. Sehingga meskipun Islam membolehkan orang yang sedang sakit untuk tidak berpuasa, sebagian ummat bahkan ada yang tetap ingin menjalankan ibadah puasa Ramadhan walaupun memiliki gangguan kesehatan dan harus menggunakan obat secara rutin. Lalu bagaimana cara mengatur waktu minum obat pada saat puasa supaya tidak mengganggu hasil terapi yang diharapkan? Artikel ini mencoba mengupas cara penggunaan obat selama bulan Ramadhan.
Penggunaan obat yang tidak membatalkan puasa
Tidak semua penggunaan obat membatalkan puasa, yaitu dalam bentuk yang tidak diminum melalui mulut dan masuk saluran cerna. Dalam sebuah seminar medis-religius yang diselenggarakan di Marokko, tahun 1997, para ahli medis maupun agama sepakat bahwa beberapa bentuk sediaan obat di bawah ini tidak membatalkan puasa, antara lain:
  1. Tetes mata dan telinga
  2. Obat-obat yang diabsorpsi melalui kulit (salep, krim, plester)
  3. Obat yang digunakan melalui vagina, seperti suppositoria
  4. Obat-obat yang disuntikkan, baik melalui kulit, otot, sendi, dan vena, kecuali pemberian makanan via intravena
  5. Pemberian gas oksigen dan anestesi
  6. Obat yang diselipkan di bawah lidah (seperti nitrogliserin untuk angina pectoris)
  7. Obat kumur, sejauh tidak tertelan
Bagaimana penggunaan obat minum saat puasa?
Jadwal waktu minum obat mau tak mau harus berubah saat bulan Ramadhan buat mereka yang ingin tetap berpuasa. Obat hanya bisa diminum selepas buka puasa sampai sebelum subuh saat sahur. Perubahan jadwal waktu minum obat mungkin dapat mempengaruhi nasib obat dalam tubuh (farmakokinetika obat), yang nantinya bisa mempengaruhi efek terapi obat. Karena itu perlu kehati-hatian dalam merubah jadwal minum obat. Konsultasikan dengan dokter atau apoteker Anda. Untuk obat-obat yang diminum sekali sehari dan kebetulan diminum pada malam hari tentu tidak ada perbedaan yang berarti ketika digunakan saat bulan Ramadhan. Demikian pula yang diminum sekali sehari pada pagi hari, dapat diminum saat sahur tanpa perubahan efek yang signifikan. Sedangkan untuk obat yang digunakan dua kali sehari, disarankan untuk diminum pada saat sahur dan saat berbuka.
Bagaimana dengan obat yang harus diminum 3-4 kali sehari?
Untuk pasien yang mendapatkan obat-obat yang harus diminum 3 kali sehari disarankan untuk minta kepada dokternya untuk meresepkan obat bentuk sediaan lepas lambat atau aksi panjang sehingga frekuensi pemakaian bisa dikurangi menjadi sekali atau 2 kali sehari. Atau bisa juga minta diganti dengan obat lain yang masih memiliki efek dan mekanisme sama, tetapi memiliki durasi aksi yang lebih panjang. Sebagai contohnya, obat hipertensi kaptopril yang harus diminum 2-3 kali sehari dapat digantikan oleh lisinopril yang digunakan sekali sehari. Atau misalnya ibuprofen, suatu obat anti radang, bisa digantikan dengan piroxicam atau meloxicam yang bisa diminum sekali sehari.
Jika tidak bisa diganti, maka penggunaannya adalah dari waktu buka puasa hingga sahur, yang sebaiknya dibagi dalam interval waktu yang sama. Misalnya untuk obat dengan dosis 3 kali sehari, maka dapat diberikan dengan interval waktu 5 jam, yaitu pada sekitar pukul 18.00 (saat buka puasa), pukul 23.00 (menjelang tengah malam), dan pukul 04.00 (saat sahur). Obat yang harus diminum 4 kali sehari dapat diberikan dalam interval 3-4 jam, yaitu pada pukul 18.00, pukul 22.00, pukul 01.00 dan pukul 04.00. Tentu waktunya harus disesuaikan dengan jadwal imsakiah setempat. Sebagian besar obat dapat diubah jadwalnya seperti ini tanpa mengubah efek terapinya secara signifikan, termasuk penggunaan antibiotika. Kelihatannya agak sulit jika harus minum obat di malam hari, tetapi ini adalah waktu yang bisa memberikan efek optimal. Jika perlu gunakan alarm untuk membangunkan tidur.
Bagaimana dengan penggunaan obat sebelum dan sesudah makan?
Obat dapat berinteraksi dengan makanan, yang berarti adanya makanan dapat mempengaruhi efek obat. Ada obat-obat yang baik digunakan sebelum makan karena absorpsinya lebih baik pada saat lambung kosong, dan ada yang sebaliknya, diminum setelah makan karena dapat menyebabkan iritasi lambung atau lebih baik penyerapannya jika ada makanan. Selama bulan Ramadhan, perhatikan pula aturan minum obatnya, apakah sesudah atau sebelum makan.
Jika aturannya 1 kali sehari sebelum makan : obat bisa diminum pada saat sahur (setengah jam sebelum makan) atau pada saat berbuka (setengah jam sebelum makan). Gunakan sesuai anjuran, apakah biasanya pagi atau malam. Obat hipertensi misalnya, baiknya diminum pagi hari karena tekanan darah paling tinggi pada pagi hari. Sebaliknya, obat penurun kolesterol sebaiknya diminum malam hari. Usahakan konsisten dengan waktu minumnya, apakah pagi atau malam.
Jika aturannya 1 kali sehari setelah makan, maka obat bisa diminum pada waktu seperti di atas, hanya saja diminumnya kira-kira 5-10 menit setelah makan besar. Setelah makan artinya kondisi lambung berisi makanan.
Untuk penggunaan 2,3 atau 4 kali sehari, pada prinsipnya sama, seperti yang dijelaskan di atas mengenai jam minum obat. Jika diminta sebelum makan berarti sekitar 30 menit sebelum makan. Jika ada obat yang harus diminum tengah malam sesudah makan, maka perut dapat diisi dulu dengan roti atau sedikit nasi sebelum minum obat.
Penggunaan obat pada penyakit kronis di bulan Ramadhan
Beberapa penyakit kronis memerlukan pengobatan terus-menerus, seperti penyakit diabetes, epilepsi, asma, dan hipertensi. Untuk mereka yang tetap ingin berpuasa, perlu dilakukan pemantauan yang lebih ketat terkait dengan perubahan jadwal pemberian obatnya dan kondisi penyakitnya. Berikut akan diulas penggunaan obat dan pemantauan terapi pada penyakit-penyakit kronis tersebut.
Diabetes Melitus (kencing manis)
Secara umum, puasa tidak disarankan bagi penderita diabetes, karena berisiko mengalami hipoglikemia (kurangnya kadar guka darah) pada saat puasa, atau sebaliknya hiperglikemia (kelebihan kadar gula darah) pada saat berbuka puasa. Obat golongan sulfonilurea seperti glibenklamid, gliklazid, dan glimepirid memiliki risiko efek samping hipoglikemi yang besar, sehingga kurang direkomendasikan bagi pasien diabetes. Sebagai gantinya, pasien dapat menggunakan obat metformin 3 kali sehari, yang pada saat puasa harus diminum 2 dosis pada saat buka puasa dan satu dosis pada saat sahur. Obat semacam acarbose juga relatif aman untuk penderita diabetes, karena kurang menyebabkan hipoglikemi.
Pasien yang tetap menggunakan obat golongan sulfonilurea sekali sehari sebaiknya meminumnya saat buka puasa sebelum makan. Sedangkan untuk yang dua kali sehari, maka obat diminum satu dosis pada saat buka puasa dan setengah dosis pada saat sahur. Namun demikian ada pula ahli yang menyarankan untuk tidak mengkonsumsi obat pada saat sahur karena dikuatirkan mengalami hipoglikemi jika pasien berpuasa. Pada pasien yang menggunakan insulin premix atau aksi sedang 2 kali sehari, perlu dipertimbangkan perubahan ke insulin aksi panjang atau sedang pada sore hari dan insulin aksi pendek bersama makan. Gunakan dosis biasa pada saat berbuka dan setengah dosis pada saat sahur. Usahakan banyak minum pada saat tidak berpuasa untuk menghindari dehidrasi. Pemantauan kadar gula sebaiknya dilakukan lebih kerap dari biasanya. Jika kadar gula turun di bawah 60 mg/dL, pasien disarankan segera berbuka puasa. Juga jika kadar gula terlalu tinggi (> 300 mg/dL), pasien disarankan tidak berpuasa.
Pasien hipertensi, asma dan epilepsi
Pasien dengan penyakit kronis seperti hipertensi, asma dan epilepsi yang harus menggunakan obat secara teratur dapat tetap berpuasa, dengan mengatur waktu minum obatnya pada saat berbuka dan sahur. Minta kepada dokter untuk memberikan obat-obat yang bersifat aksi panjang sehingga cukup diminum sekali atau dua kali sehari. Secara umum kondisi harus tetap dijaga dengan mengatur makanan, misalnya mengurangi garam atau lemak, banyak minum air putih, olahraga secara cukup. Pasien asma dengan penggunaan inhaler secara teratur dapat menggunakan inhalernya pada saat setelah waktu buka puasa dan pada saat sahur. Namun jika diperlukan penggunaan inhaler pada saat serangan akut di siang hari, pasien dapat membatalkan puasanya. Pasien hipertensi perlu memantau tekanan darahnya lebih kerap pada bulan puasa daripada bulan tidak puasa.
Demikian sekilas tentang penggunaan obat pada saat bulan Ramadhan. Sekali lagi Islam membolehkan orang yang sakit untuk tidak berpuasa. Jika sakit Anda cukup berat dan ingin berpuasa, konsultasikan pada dokter Anda apakah boleh berpuasa atau tidak. Tidak perlu memaksakan diri berpuasa jika fisik tidak mengijinkan.
Selamat berpuasa, semoga amal ibadah Ramadhan kita diterima oleh Allah SWT.  Amiien

Terima Kasih kepada Prof Zullies Ikawati atas Artikelnya, teman2 jangan lupa mampir di blognya Beliau https://zulliesikawati.wordpress.com
Mohon Saran dan Komentarnya di  sairan-amaf.blogspot.com

Antibiotika dan anti jamur dapat menurunkan efek pil KB !

 

Hati-hati, antibiotika dan anti jamur dapat menurunkan efek pil KB !

Bagi Wanita yang telah Manikah alias ibu - ibu yang akan menunda kehamilan dengan alat kontrasepsi jenis Pil KB, ini ada Artikel dari Prof. Zullies Ikawati yang di Poskan pada
Rabu, 24 September 2008, yang wajib Anda baca. Link Artikel Aslinya Hati-hati, antibiotika dan anti jamur dapat menurunkan efek pil KB!

Yuukkk, kita Simak.....
(Copas Asli)

Belakangan nyonya Susi gelisah. Sudah seminggu ini haidnya terlambat. Hamilkah ? Padahal dia tidak pernah lupa minum pil KB. Mereka belum berencana menambah anak lagi. Beberapa waktu lalu dia juga punya keluhan seperti keputihan dan gatal di sekitar organ kewanitaannya. Dokter memberinya obat antijamur griseofulvin. Adakah hubungan antara pil KB/kontrasepsi oral dengan antijamur yang dia minum ?
Hingga sekarang, interaksi obat antara pil KB dan obat antimikroba (antibiotika dan antijamur) masih menjadi kontroversi. Sebagian dokter/klinisi melaporkan adanya sejumlah wanita yang gagal ber-KB karena minum antibiotika selama penggunaan pil KB, terutama tetrasiklin atau golongan penisilin, sementara para ilmuwan belum bisa mengklaim secara kuat bahwa penggunaan secara bersama dua obat tersebut menurunkan konsentrasi obat kontrasepsi oral dalam darah, terutama etinil estradiol (senyawa aktif dalam pil KB).
Selama ini dianggap bahwa interaksi demikian hanya signifikan untuk sebagian kecil wanita saja. Sebagian wanita ini menunjukkan bioavailabilitas (ketersediaan hayati) etinil estadiol yang rendah, karena adanya “first pass “ metabolisme yang berlebihan dan memiliki sirkulasi enterohepatik etinil estradiol yang besar. “First pass metabolism” adalah metabolisme atau perombakan obat oleh hati menjadi bentuk yang tidak aktif/metabolitnya. Studi ilmiah mengenai konsentrasi etinil estradiol dalam darah yang diminum bersamaan dengan antibiotika hanya melibatkan sejumlah terbatas pasien karena masalah logistik dan biaya, dan belum melibatkan kelompok wanita yang “rentan terhadap kehamilan”, sehingga masih sulit diambil kesimpulan yang kuat tentang hal tersebut. Boleh jadi, kasus nyonya Prabowo adalah karena dia termasuk kelompok wanita yang rentan tersebut. Namun karena diperkirakan bahwa antara 60 sampai 70 juta wanita di dunia menggunakan pil KB, dan banyak yang juga menggunakan obat antibiotika/antijamur selama penggunaan kontrasepsi oral tesebut, maka adanya interaksi ini perlu dipertimbangkan dan diketahui.

Bagaimana mekanisme terjadinya interaksi antara pil KB dengan obat antibiotika/antijamur ?
Etinil estradiol adalah estrogen pilihan yang banyak digunakan dalam pil KB, dan merupakan senyawa yang aktif utama pil KB. Dari total zat aktif dalam satu pil, hanya kira-kira 40-50 %-nya saja yang dapat mencapai peredaran darah sistemik dalam bentuk tidak berubah, dengan rentang variasi individual berkisar 10 s/d 70%. Sisanya dimetabolisir selama “first pass metabolisme” melalui saluran pencernaan dan liver/hati. Etinil estradiol yang telah melalui peredaran darah akan diserap oleh tubuh, dan sisa yang tidak terserap akan mengalami konjugasi dengan senyawa sulfat, terutama di dinding saluran cerna, lalu ditranspor di pembuluh darah vena ke dalam liver dimana akan terjadi hidroksilasi dan konjugasi dengan asam glukoronat. Dengan proses metabolisme ini, etinil estradiol berubah menjadi senyawa yang tidak aktif, yang pada akhirnya akan dikeluarkan melalui feses/tinja.
Proses hidroksilasi ini dikatalisir oleh suatu enzym spesifik yang disebut sitokrom P450, yang dipengaruhi oleh sifat genetik, yang berarti tergantung pada sifat gen manusia. Dengan demikian, hal ini dapat menjelaskan mengapa setiap individu, termasuk dari etnik yang berbeda, bisa memiliki perbedaan kemampuan untuk memproses hidroksilasi etinil estradiol dalam tubuh. Estrogen yang tidak terhidroksilasi akan mengalami konjugasi dengan glukoronat, dan kemudian diekskresikan ke dalam empedu, lalu masuk ke dalam usus dan dikeluarkan melalaui tinja. Tetapi, sebagian dari estrogen yang melalui usus tadi masih dapat diproses lagi oleh suatu bakteria usus yaitu spesies Clostridia kembali menjadi bentuk yang aktif/bebas dan dapat mengalami re-sirkulasi dalam peredaran darah sistemik dan mengalami penyerapan lagi.
Ada beberapa keadaan di mana secara teroritik antimikroba (antibiotika/antijamur) dapat mempengaruhi penyerapan, metabolisme dan pengeluaran etilen estradiol, menurunkan potensinya serta dapat menyebabkan pendarahan, bahkan kegagalan KB, yaitu kehamilan. Rifampisin, suatu antibiotika yang digunakan untuk mengobati TBC, adalah yang pertama kali dilaporkan menyebabkan berkurangnya efek pil KB pada sekitar tahun 1971 di Jerman. Di antara 88 wanita yang menggunakan pil KB dan Rifampisin, 62 orang diantaranya dilaporkan mengalami gangguan menstruasi dan 5 orang gagal berKB atau hamil. Rifampisin adalah induser yang poten terhadap enzym sitokrom P450, sehingga meningkatkan proses metabolisme etinil estradiol menjadi senyawa tak aktif, yang pada gilirannya menyebabkan berkurangnya konsentrasi pil KB tersebut dalam tubuh dan menyebabkan efeknya jadi berkurang.
Griseofulvin, suatu obat jamur, juga dilaporkan memiliki efek yang serupa, yaitu mengurangi efek kontrasepsi oral. Obat jamur lain yang dilaporkan dapat menurunkan potensi pil KB adalah itraconazole, namun mekanismenya belum diketahui secara pasti. Yang menarik, obat kelompok triazol yang lain yaitu ketaconazole, dan fluconazole, dilaporkan menghambat enzim sitokrom P450, yang berarti mengurangi metabolisme pil KB menjadi bentuk tak aktifnya, yang pada gilirannya meningkatkan efek pil KB-nya. Namun karena belum ada data epidemiologi yang akurat, masih sulit untuk menyimpulkan secara pasti interaksi obat jamur dengan kontrasepsi oral.
Selain dengan cara meningkatkan kerja enzim pemetabolisme tersebut, antibiotika juga dapat mengurangi efek pil KB dengan cara membunuh bakteria usus yang dibutuhkan untuk memproses etinil estradiol menjadi senyawa bebas yang bisa dire-sirkulasi dan dire-absorpsi. Dengan terbunuhnya bakteri usus yang berguna, yaitu Clostridia, maka proses reabsorpsi obat akan terhambat, kadar zat aktif dalam tubuh jadi berkurang, yang berarti mengurangi efek pil KB. Antibiotika seperti penisilin dan tetrasiklin dilaporkan dapat menyebabkan kegagalan pil KB. Di Selandia baru pada tahun 1987, 23% dari 163 kasus kehamilan yang dilaporkan adalah akibat kegagalan pil KB karena digunakan bersama dengan antibiotika. Namun sekali lagi, masih terdapat kesulitan metodologi dalam studi ilmiah tentang interaksi obat ini. Karena penggunaan parameter yang berbeda, sebagian studi menyatakan tidak ada interaksi yang signifikan antara obat antimikrobia ini dengan pil KB, sementara studi yang lain menyatakan sebaliknya.
Sebuah penelitian yang dilakukan pada kelinci, seperti dilaporkan oleh sebuah jurnal ilmiah Contraception tahun 1997, menunjukkan bahwa antibiotika amoksisilin tidak memiliki efek signifikan terhadap kadar etinil estradiol dalam darah, yang berarti tidak mempengaruhi efek pil KB. Hasil penelitian yang serupa juga ditemui pada antibiotika tetrasiklin. Sebuah studi (tahun 1991) pada 7 orang wanita yang menggunakan kontrasepsi oral dan tetrasiklin secara bersama menunjukkan bahwa tetrasiklin tidak mengurangi secara signifikan kadar etinil estradiol dalam darah. Penelitian lain yang melibatkan generasi baru antibiotika yaitu roxithromycin dan dirirthromycin juga gagal menunjukkan efek yang siginifikan pada pemakaian kombinasi dengan pil KB. Namun demikian, karena penelitian semacam ini pada manusia umumnya hanya melibatkan sejumlah terbatas wanita, boleh jadi hasilnya tidak bisa menggambarkan hasil yang mungkin terjadi pada sekelompok wanita yang memiliki respon yang berbeda.

Bagaimana sebaiknya ?
Walaupun menurut beberapa studi di atas, kemungkinan kejadian interaksi ini hanya terbatas, terutama pada wanita yang memiliki aktivitas enzim pemetabolisme dan sirkulasi enterohepatik yang berlebihan, namun sampai saat ini tidak ada cara untuk mengindentifikasi apakah seorang wanita termasuk kelompok tersebut atau tidak. Karena itu, untuk menghindari kemungkinan kegagalan pil KB, adalah lebih bijaksana jika pasien maupun dokter penulis resep berhati-hati terhadap adanya kombinasi antibiotika/antijamur dengan pil KB. Bagi wanita yang mengkonsumsi rifampisin dalam jangka panjang, sebaiknya memilih cara kontrasepsi yang lain, misalnya dengan suntik KB, spiral, kondom, atau lainnya. Wanita yang menggunakan obat jamur griseofulvin juga perlu waspada terhadap berkurangnya efek pil KB, dan sebaiknya tidak menggantungkan diri pada cara kontrasepsi ini. Cara lain adalah dengan menghindari kontak seksual selama 7 hari pertama pemakaian antibiotika dan 7 hari berikutnya. Jadi tegasnya, jika Anda mendapatkan resep antibiotika, sementara Anda sedang menggunakan pil KB, maka sampaikan pada dokter Anda dan konsultasikan mengenai kemungkinan interaksi ini. Dan yang penting, gunakan juga cara kontrasepsi lain untuk mendukung kerja pil KB yang digunakan selama Anda mengkonsumsi antibiotika/antijamur. Bagaimanapun, berhati-hati akan lebih baik daripada “terlanjur” hamil tanpa direncanakan, apalagi diinginkan.
Sumber :
http://zulliesikawati.blogspot.com/2008/09/hati-hati-antibiotika-dan-anti-jamur.html
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com